August 6, 2009
Laporan wartawan Bondan Winarno
Di masa lalu, industri kreatif di bidang oleh-oleh masih belum seberapa berkembang dibanding saat ini. Contohnya, sekitar 20 tahun yang lalu, penumpang pesawat terbang dari Medan atau Makassar biasanya tampak menjinjing dua botol sirop markisa sebagai oleh-oleh.
Sekarang, pemandangan seperti itu sudah passe. Di areal check in bandara Polonia, Medan, kita akan melihat ratusan boks Bolu Gulung Meranti atau Bika Ambon Zulaikha (dan merk-merk lain). Di Makassar, kita juga melihat banyak penumpang membawa termos plastik besar berisi kepiting saus padang dari Restoran Surya.
February 19, 2009
KUDUS – Sebuah batu aneh dapat berputar sendiri ketika dinaiki menggegerkan warga Desa Jepang, Mejobo, Kudus, Jawa Tengah. Batu kecil selebar telapak tangan tersebut diterima Supriyanto, warga Desa Jepang RT 01/ 12 sekira lima hari lalu dari seseorang yang tidak dikenal.
Puluhan warga setempat langsung berdatangan ke rumah Supriyanto untuk melihat keanehan batu tersebut. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang ingin merasakan “kesaktian” batu berwarna hitam itu. Sejumlah warga, baik pria maupun wanita bergantian menaiki batu yang dibungkus kain hitam serta diberi tatakan papan itu.
Ketika beberapa warga lainnya berteriak “berputar Mbah… berputar…,” pelan tapi pasti batu itu mulai berputar ke kanan dan ke kiri, sesuai perintah yang diberikan.
Kepada wartawan, Supriyanto mengaku jika awalnya tidak mempercayai batu tersebut memiliki keistimewaan. Namun, ketika dia mencoba sendiri, sang batu benar-benar berputar. Kabar itupun langsung menyebar ke warga lainnya.
“Saya diberi batu ini dari seseorang yang bertamu ke rumah sekira pukul 20.00 WIB, lima hari lalu. Orang itu meminta saya untuk merawat batu ini karena memiliki keistimewaan, yakni berputar sesuai perintah saat dinaiki,” kata Supriyanto.
Dengan wajah yang masih keheranan, Supriyanto menerima pemberian tersebut. Setelah orang misterius itu pergi, dia akhirnya penasaran mencobanya. Supriyanto mengaku tidak tahu apakah batu tersebut dapat dijadikan perantara menyembuhkan penyakit seperti batu milik dukun cilik Ponari atau tidak. Karena hingga kini belum pernah diagunakan untuk penyembuhan penyakit.
Dia menambahkan, tidak semua warga dapat merasakannya. Sebab, beberapa orang yang mencoba menaiki, namun batu tersebut hanya diam saja. Begitu juga yang terjadi saat salah seorang wartawan mencobanya. Akan tetapi, setelah itu batu dapat berputar kembali ketika ada warga perempuan yang menaikinya.
“Aneh Mas. Tadi saya hanya diam di atas papan, lalu tiba-tiba batu bergerak berputar,” ujar warga tersebut. (Sundoyo/Sindo/teb)





